Film RATMI dan Potret Kehidupan Pemulung

Menjadi pemulung tidaklah selalu identik dengan ketidakmampuan mensejahterakan keluarga; serta keinginan berpindah pada profesi lain yang relatif “terhormat” di mata masyarakat. Sebagaimana dalam film RATMI, yang coba diangkat oleh Septia Muslimah, bersama kawan-kawannya, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (UMB) Yogyakarta. Film yang pemutaran perdananya dilakukan pada Senin, 28 Januari 2012 di Ruang Seminar Kampus 2 UMB Yogyakarta ini, mengisahkan kehidupan Ratmi yang sehari-harinya menjadi pemulung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

2013-film-karya-mhs-fikom

Dengan penghasilan perhari Rp. 50.000,-, ia mampu membesarkan putrinya yang sakit-sakitan, serta mampu membantu keluarganya di kampung halaman. Bahkan ketika ada yang menawarkan profesi lain padanya, yakni sebagai penjual mainan, Ratmi ini enggan berpindah profesi. Baginya, selain berpenghasilan cukup menjanjikan, menjadi pemulung juga profesi yang merdeka karena tidak ada bos yang menyuruh-nyuruh.

Menurut Tia, sapaan akrab Septia Muslimah, film yang diangkat dari kisah nyata ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sinematografi yang harapannya dari pemutaran perdana yang dihadiri oleh dosen dan para peserta seminar ini dapat memperoleh masukan dan saran untuk perbaikan kedepannya.

Leave a Reply