Ketika SMS Menjadi “Candu”

Adalah Reina yang di saat pesta ulang tahunnya sibuk ber-SMS-an dengan teman baiknya yang duduk di sebelah, padahal saat itu orang- orang sedang menyanyi untuknya. Tidak hanya itu, dia bahkan langsung nge-rumpi lewat SMS dengan temannya. Reina, ABG berumur 13 tahun dari California itu dalam satu bulan telah mengirim sebanyak 14.528 kali.[3] Menurut hitungan yang muncul dalam catatan providernya, Reina dalam satu hari mengirim 484 sms, yang berarti satu sms setiap semenit atau dua menit di luar jam tidur. Saat sang ayah menanyai soal kebiasaan ber-SMS itu, dia menjawab “Wah, banyak temanku berlangganan SMS tanpa batas. Aku kirimi mereka SMS lumayan banyak setiap saat. Waktu itu libur musim dingin dan aku sedang bosan.”[4]

 

            Apa yang menjadi realitas seorang Reina di California, tentu dapat kita temukan pula dalam diri Reina – Reina di Indonesia. Disadari atau tidak, kita telah menghabiskan ratusan SMS dalam sehari. Jemari kita serasa lekat dengan keypad – keypad handphone itu. SMS sudah menjadi “gaya hidup”. Sebuah penelitian menemukan bahwa 87 % remaja pemilik ponsel tidur dengan ponsel di sisinya, tujuannya agar mereka bisa membalas SMS sepanjang malam.[5] Bahkan di waktu – waktu yang seharusnya “tidak memungkinkan” untuk ber-SMS, yakni saat makan, di kamar mandi, menyetir, mengendarai motor, pesawat (meski sudah ada larangan), berdesakan di kendaraan umum, mengantre, berjalan kaki atau di waktu lain saat diri kita “menghendaki”. Ironisnya SMS itu menyeruak dan menginterupsi ruang – ruang sosial kita. Jari ini dengan asyik mengetik saat rapat berlangsung, atau jeda sejenak waktu beribadah untuk membalas SMS, hingga mengabaikan orang – orang terdekat yang berbicara dan hadir di dekat kita. Sampai – sampai terlontar sebuah joke “SMS mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.” Meski di ruang lain kita barangkali mengamini bila SMS “memudahkan” komunikasi kita, pesan yang disampaikan lebih cepat diterima dan bisa membalasnya kapanpun dan dimanapun kita berada. Lalu, apakah keberlangsungan dan kualitas relasi manusia akan bermuara pada 160 karkater SMS di layar HP kita ? Menarik untuk menelisik “ramuan – ramuan apa yang membuat SMS menjadi “candu” dalam hidup kita.

            Dalam beberapa artikel, opini dan perbincangan yang berkembang, banyak variabel yang terkait dengan keberadaan SMS ini. Kelahiran dan pertumbuhannya yang pesat tentu tidak bisa dilepaskan dari “metamorfosa” handphone atau telepon seluler. Berawal dari sebuah produk teknologi canggih dan mahal, kini menjadi benda super biasa yang terjangkau dan ada di setiap genggaman semua lapisan masyarakat. Handphone murah ditawarkan, lengkap dengan iming – iming paket berhadiah (dengan kartu perdana), diskon, atau bahkan kredit tanpa bunga. Tak pelak layanan content provider yang menjadi “support system” dari seluler berlomba menawarkan berbagai fitur canggih, pulsa murah tanpa batas hingga free-talk gencar mencecar kita. Dari situlah SMS mendapat lahan subur untuk berkembang. Jargon “mudah, murah dan cepat” membawa SMS mengalir deras menuju sendi – sendi kehidupan kita. SMS sudah menjadi hobi, bahkan menjadi kebutuhan pokok. Orang rela menghabiskan ratusan ribu atau mungkin sampai jutaan rupiah hanya untuk SMS. Hingga membuat kita adiktif terhadapnya. Tidak hanya pesan penting dan genting, tapi juga pesan basa – basi, sekedar berrtanya “pa kbr, bro?” atau jawaban “ok” terkirim dalam setiap detiknya.

            Jika ditelaah lebih jauh, SMS tidak hanya berhenti pada ketika huruf demi huruf, kata demi kata, tetapi dia merupakan “bagian kecil” dari semakin meroketnya teknologi. Dalam pandangan McLuhan, teknologi media telah berhasil mentransformasikan masyarakat – masyarakat manusia di dunia menjadi sebuah komunitas global tanpa dinding – dinding pembatas lama seperti ideologi poltik, agama dan nasionalitas.[6] New electronic media secara radikal telah telah merubah cara berpikir, perasaan dan cara bertindak. Kesemuanya mewujud dalam cara berbicara, logika berbahasa, tulisan, cara merasa hingga terekspresikan dalam tindakan. McLuhan menyimpulkan, secara spesifik perubahan cara komunikasi membentuk eksistensi manusia.[7] Kalau dulu pada masa berburu dan meramu orang – orang primitif mengumpulkan makanan untuk bertahan hidup dari keganasan alam, kini “orang modern” berlomba untuk mengumpulkan informasi agar tetap bisa bertahan dalam lingkungan hidup baru yang basis sosial masyarakatnya telah bergeser dari produksi barang dan jasa menjadi produksi informasi.[8] (more…)